AWAS BULLYING !

Oleh : Sri Wahyuni,S.Pd

Ketika aku menjadi wali kelas di Kelas VII, ada orangtua siswa yang datang ke rumah. Beliau menceritakan bahwa anaknya sepulang sekolah mengatakan dirinya tidak mau sekolah lagi. Di kelas, teman- temannya banyak yang memusuhinya. Temennya sering mengejeknya anak over acting, cari muka di depan guru dan egois. Tiap ada tugas kelompok, temannya nggak mau mengajaknya menjadi anggota kelompoknya. Bahkan saat ada tugas kelompok dalam suatu mata pelajaran, ada temannya yang melempar kepalanya dengan paku. Pokoknya dia nggak mau sekolah lagi, dan meminta pindah ke sekolah lain.

Berdasarkan kejadian itu, sebagai wali kelas sudah seyogyanya aku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada siswa tersebut. Apa yang dialami anak tersebut merupakan tindakan Bullying. Awalnya orangtua siswa tidak bisa menerima kejadian yang menimpa anaknya adalah bullying, sehingga beliau menginginkan masalah anaknya diselesaikan secara hukum. Tetapi setelah aku jelaskan panjang lebar, akhirnya orangtua siswa tersebut paham bahwa itu merupakan tindakan bullying.


Aku bisa menjelaskan masalah bullying karena beberapa waktu yang lalu telah membaca artikel tentang bullying.

APAKAH ITU BULLYING?

Ratiyono dari Dinas Dikmenti Provinsi DKI Jakarta memberikan arti bullying sebagai perilaku yang tak senonoh yang diarahkan kepada orang lain yang dianggap lebih lemah.Perilaku bullying dapat berwujud fisik, verbal dan psikologis. Yang berwujud fisik antara lain memukul, menjewer, mencubit, meninju, mendorong, menendang, menjitak, mendorong kepala, menarik alis mata, melempar penghapus, kapur, sapu dan buku, menjemur korban di panas atau hujan, menyuruh siswa lari, push up, merangkak, berdiri di depan kelas, mengompas/memalak, perpeloncoan/ospek, dll. Bullying secara verbal antara lain menuduh atau menyalahkan, mengeritik dengan tajam dan menyakitkan, menjuluki, melecehkan, memfitnah dan menyebarkan gosip, membentak-bentak,mengecilkan, menghina,dan mendiamkan.

Sedangkan secara psikologis adalah ekspresi muka merendahkan, kasar atau tidak sopan, mempermalukan di depan umum dan mengucilkan (tidak menghiraukan korban, tidak menganggap ada korban).
Bullying dapat terjadi kepada siapa pun dan di mana pun, seperti di kantor pemerintah, perusahaan swasta, instansi pendidikan dan lain-lain. Tindakan bullying dapat terjadi dari atasan kepada bawahan, antara karyawan dengan karyawan, dari kepala sekolah kepada guru, antarguru, guru kepada murid dan antara murid dengan murid.

Umumnya, orang lebih mengenal bullying dengan istilah penggencetan, pemalakan, pengucilan, intimidasi dan lain- lain.

Survei yang dilakukan Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA) antara lain menyimpulkan bahwa peran guru sangat diperlukan untuk mengatasi bullying dan menciptakan lingkungan yang positif di sekolah. Hanya patut disayangkan, dampak negatif bullying masih belum disadari sepenuhnya oleh para guru.

Hasil survei SEJIWA pada guru-guru di tiga SMA pada dua kota besar di P. Jawa menunjukkan bahwa 18,3 persen guru (sekitar 1 dari 5 guru) mengganggap bahwa penggencetan dan olok-olok adalah hal biasa dalam kehidupan remaja dan tidak perlu diributkan.

Sebanyak 27,5 persen guru (sekitar 1 dari 4 guru) berpendapat bahwa sesekali mengalami penindasan tidak akan berdampak buruk pada kondisi psikologis siswa.

Akibat kurang menyadari dampak negatif tersebut, para guru tidak secara efektif mengatasi masalah bullying di sekolah. Bahkan, ada kalanya para guru juga melakukan bullying pada siswa dalam rangka mendidik dan menegakkan disiplin.

Umumnya, guru-guru yang cenderung melakukan bullying adalah mereka yang bertipe agresif. Dari hasil survei yang dilakukan SEJIWA terhadap lebih dari 600 guru di 32 sekolah di 7 kota menunjukkan bahwa rata-rata para guru mempersepsi ada sekitar 37 persen guru yang bertipe agresif.

Ada hasil survei SEJIWA pada 2 SMA di Jakarta dan satu di Semarang yang perlu disimak yakni 10 persen (1 dari 10 guru) berpendapat bahwa hukuman fisik adalah cara menegur yang paling efektif.
Selain itu, sepuluh persen guru (1 dari 10 guru) menghukum siswa yang melakukan kesalahan dengan hukuman fisik dan 36 persen siswa (hampir 4 dari 10 siswa) mengemukakan bahwa guru mereka membentak dan memojokkan siswa agar siswa mengakui kesalahannya.

FAKTOR DAN KARAKTERISTIK YANG TERKAIT DENGAN KORBAN BULLYING

Pepler dan Craig (1988) mengidentifikasi beberapa faktor internal dan eksternal yang terkait dengan korban bullying. Secara internal, anak yang rentan menjadi korban bullying biasanya memiliki temperamen pencemas, cenderung tidak menyukai situasi sosial (social withdrawal), atau memiliki karakteristik fisik khusus pada dirinya yang tidak terdapat pada anak-anak lain, seperti warna rambut atau kulit yang berbeda atau kelainan fisik lainnya. Secara eksternal, ia juga pada umumnya berasal dari keluarga yang overprotektif, sedang mengalami masalah keluarga yang berat, dan berasal dari strata ekonomi/kelompok sosial yang terpinggirkan atau dipandang negatif oleh lingkungan.

Tentu karakteristik di atas bukanlah harga mati. Banyak anak-anak yang sepintas kelihatannya ’biasa-biasa saja’, ternyata tanpa sepengetahuan orangtua atau guru mereka telah menjadi korban bullying selama berbulan-bulan. Padahal, jika mereka mengetahui tanda-tandanya, anak tersebut dapat ditangani sedini mungkin sebelum efek negatif dari bullying semakin merusak dirinya.

APA SAJA GEJALA BULLYING?

Hal-hal berikut ini bisa menjadi indikasi awal bahwa anak mungkin sedang mengalami bullying di sekolahnya.

· Kesulitan untuk tidur

· Mengeluh sakit kepala atau perut

· Tidak nafsu makan atau muntah-muntah

· Takut pergi ke sekolah

· Sering pergi ke UKS/ruang kesehatan

· Menangis sebelum atau sesudah bersekolah

· Tidak tertarik pada aktivitas sosial yang melibatkan murid lain

· Sering mengeluh sakit sebelum berangkat sekolah

· Sering mengeluh sakit pada gurunya dan ingin orangtua segera menjemput pulang

· Harga diri yang rendah

· Perubahan drastis pada sikap, cara berpakaian, atau kebiasaannya

· Kerusakan atau kehilangan barang-barang pribadi, berkurangnya uang jajan yang tak dapat dijelaskan

· Lecet atau luka yang tidak dapat dijelaskan, atau dengan alasan yang dibuat-buat

· Bersikap agresif di rumah

· Tidak mengerjakan atau menyelesaikan tugas-tugas sekolah, prestasi menurun

· Sering merasa tidak berdaya menghadapi permasalahan, submisif

MENGAPA SESEORANG MENJADI PERILAKU BULLYING?

Penelitian menunjukkan bahwa banyak alasan mengapa seseorang menjadi pelaku bullying. Alasan yang paling jelas adalah bahwa pelaku merasa kepuasan apabila ia berkuasa di antara teman2nya. Selain itu, dengan melakukan bullying, ia akan dapat mendapatkan sanjungan teman2nya karena dianggap punya selera humor yang tinggi, keren, dan tentu saja, populer. Selain itu, Pelaku biasanya adalah seorang anak yang temperamental, mereka melakukan bullying terhadap anak lain sebagai pelampiasan kekesalan dan kekecewaan mereka terhadap suatu hal.
Pelaku bullying kemungkinan besar juga sekedar mengulangi apa yang pernah dilihat atau dialaminya sendiri. Ia menganiaya org lain karena mungkin ia sendiri dianiaya oleh ortunya di rumah. Bisa juga karena ia pernah ditindas oleh sesama siswa di masa lalunya. Dari sinilah sikuls kekerasan akan terus berlanjut, turun temurun dari generasi ke generasi.

BAGAIMANA CARA MENGATASI BULLYING?

Apabila anda mengetahui atau mengenal seorang anak yang men jadi pelaku bullying, maka anda harus menghadapi dia dengan sabar dan jangan pernah memojokkan dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang interogatif. Anda harus memelihara harga dirinya dan perlakukan ia dengan respek. Ajaklah sang pelaku tersebut untuk merasakan perasaan korban, dan tumbuhkanlah empatinya. Contohnya dengan pertanyaan “apakah kamu mau dihina atau dipukuli oleh orang lain?”
Selain di atas, anda juga dapat mengangkat kelebihan2 atau bakat yang terdapat pada si pelaku di bidang yang positif. Usahakan untuk mengalihkan energinya kepada kegiatan2 positif tadi daripada sibuk menganiaya orang. Anda juga dapat membantu si pelaku untuk mengatasi kelemahan dan kekurangannya. Ini bisa menjadi jalan untuk memberdayakan dan meningkatkan kepercayaan dirinya.
Proses menangani pelaku tidak bisa dilakukan hanya sekali dan instant, melainkan harus berulang2 dan konsisten. Pelaku bullying, seperti halnya korban dan anak2 lain, memerlukan perhatian dan kepercayaan org lain bahwa ia pun bisa menjadi seseorang yang bersikap, berperilaku, dan bahkan berprestasi di bidang positif.

Perlu diingat, bahwa kemungkinan besar sang pelaku tidak menyadari bahwa ia telah menjadi seorang pelaku serta tidak mengetahui dampak2 buruk yang bisa disebabkan oleh perilakunya tersebut. Oleh karena itu, telah menjadi tugas kita, yang telah menyadari penuh bahaya dari bullying, untuk menjelaskan mengenai seputar bulliyng, dan membimbingnya untuk berhenti menjadi seorang pelaku.

Psikolog Ratna Djuwita yang juga Manager Sumber daya Manusia (SDM) di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), menyatakan bahwa harus dilakukan sesuatu untuk mengatasi tindakan bullying di mana pun juga. Pemerintah harus punya kebijakan anti-bullying yang jelas dalam mengatasi bullying tersebut. Misalnya, bagaimana sekolah-sekolah memberikan pendekatan terhadap tindakan bullying, baik kepada pelaku bullying, korban bulying atau pihak-pihak yang mengetahui terjadinya tindak bullying.

“Harus dilakukan pendekatan yang tidak menyalahkan dalam mengatasi bullying karena dalam hal bullying kita tidak dapat menyalahkan pihak tertentu saja,” kata Ratna.

Dia juga menilai, guru-guru perlu dibekali dengan keterampilan berkomunikasi dalam menyelesaikan kasus bullying. “Guru-guru dapat menghadirkan seluruh pihak yang terkait dengan tindakan bullying, sama-sama berbicara untuk mencari jalan keluarnya.”

Sedangkan Ratiyono mengemukakan dua strategi untuk mengatasi bullying yakni strategi umum dan khusus.

Strategi umum dijabarkan dengan menciptakan kultur sekolah yang sehat. Ratiyono mendeskripsikan kultur sekolah sebagai pola nilai-nilai, norma, sikap, ritual, mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah.

Kultur sekolah dilaksanakan oleh warga sekolah secara bersama baik oleh kepala sekolah, guru, staf administrasi maupun siswa sebagai dasar dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul.

Hal ini dilakukan untuk menciptakan situasi yang saling menghargai, menyenangkan, menyejukkan, mengasyikan dan mencerdaskan.
Sedangkan strategi khusus adalah mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang menyebabkan terjadinya tindakan bullying di lingkungan sekolah, aktifkan semua komponen secara proporsional sesuai perannya dalam menanggulangi perilaku bullying, susun program aksi penanggulangan bullying berdasarkan analisis menyeluruh dan melakukan evaluasi dan pemantauan secara periodik dan berkelanjutan.


“Yang tak kalah pentingnya, para orang tua diminta untuk ikut menyelamatkan anak-anak mereka dari tindakan tak terpuji itu.”

Tinggalkan komentar

Filed under Profil SMP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s